Membahas tentang perjalanan, saya jadi ingat prakata dari Mudir Pondok, Ayahanda Almukarrom KH. DR. Ahmad Deni Rustandi, M.Ag. beliau pernah mengatakan bahwa "mengemudi adalah seni".
Awalnya saya pikir ya hanya sebatas seni aja, skill buat bisa 'mengendarai' mobil atau motor diperjalanan. Tapi setelah dilakukan, di resapi, di fahami bahwa mengemudi itu bukan sekedar seni, tapi lebih daripada itu.
Seperti yang saya tau, bahwa dalam perjalanan yang mengemudi motor atau mobil bukan hanya saya seorang. Ada puluhan atau bahkan ratusan mobil dan motor yang saya temui dalam perjalanan. Dan salip menyalip sudah menjadi hal yang biasa.
Seni, dalam menyalip aja perlu seni dan taktik. Saya harus tau jarak dan kecepatan yang harus saya ambil ketika akan menyalip mobil, apalagi bis atau tronton. Kalau salah perhitungan saja nyawa taruhan nya. Hal ini juga selaras dengan kehidupan, harus punya strategi yang pas untuk bisa mencapai tujuan hidup. Mau jadi apa? Mau bagaimana? Mau kemana? Semua harus disiapkan strateginya, salah perhitungan saja hidup kita yang jadi taruhannya.
Selain itu, kadang kita sudah hati hati tapi orang lain ngga hati hati bawa mobil atau motor. Sama seperti hidup. Kadang kita sudah baik, tapi ada aja orang yang tidak baik sama kita. Julid, hujat, cibiran padahal kita ga ngapa ngapain.
Di perjalanan juga kita harus stabil, terlalu pelan malah menghalangi jalan dan akhirnya diklaksonin mobil belakang. Terlalu cepat, ada orang nyebrang akhirnya membahayakan orang lain. Sama kaya hidup, jangan terlalu pelan karena dunia tidak bisa menunggu. Tapi terlalu cepat, juga tidak bisa menikmati hidup.
Artinya apa? Kita harus bisa menyeimbangkan dan menempatkan waktu dimana kita harus pelan dan kapan kita mulai tancap gas.
Berjalan dibelakang bis, kena asap knalpotnya. Di depan bisa malah ketakutan diikutin bis (padahal emang jalan nya aja sama). Dari semua hal yang ada di 'perjalanan' adalah interpretasi kecil dati kehidupan nyata.
Comments
Post a Comment